NAMA : FISCA SAPTIYANI UTAMI
KELAS : 1EA27
NPM : 14214303
KEBUDAYAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA & SEMARANG
*Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta*
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah
Daerah Istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan bekas Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2
ini terdiri atas satu kota dan empat kabupaten, yang terbagi lagi
menjadi 78 kecamatan dan 438 desa/kelurahan. Menurut sensus penduduk
2010 memiliki jumlah penduduk 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404
laki-laki dan 1.746.986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk
sebesar 1.084 jiwa per km2.
Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu
panjang menyebabkan sering terjadinya penyingkatan nomenkaltur menjadi
DI Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa ini sering diidentikkan dengan
Kota Yogyakarta
sehingga secara kurang tepat disebut dengan Jogja, Yogya, Yogyakarta,
Jogjakarta. Walaupun memiliki luas terkecil ke dua setelah Provinsi DKI Jakarta, Daerah Istimewa ini terkenal di tingkat nasional dan internasional. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tempat tujuan wisata andalan setelah Provinsi Bali. Selain itu Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah terparah akibat bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 dan erupsi Gunung Merapi pada medio Oktober-November 2010.
*Pariwisata*
Pariwisata merupakan sektor utama bagi DIY. Banyaknya objek dan daya tarik wisata di DIY telah menyerap kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Bentuk wisata di DIY meliputi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), wisata budaya, wisata alam, wisata minat khusus dan berbagai fasilitas wisata lainnya, seperti resort, hotel, dan restoran.
Keanekaragaman upacara keagamaan dan budaya dari berbagai agama serta
didukung oleh kreativitas seni dan keramahtamahan masyarakat, membuat
DIY mampu menciptakan produk-produk budaya dan pariwisata yang
menjanjikan.
Secara geografis, DIY juga diuntungkan oleh jarak antara lokasi objek
wisata yang terjangkau dan mudah ditempuh. Sektor pariwisata sangat
signifikan menjadi motor kegiatan perekonomian DIY yang secara umum
bertumpu pada tiga sektor andalan yaitu: jasa-jasa; perdagangan, hotel
dan restoran; serta pertanian. Dalam hal ini pariwisata memberi efek
pengganda (
multiplier effect) yang nyata bagi sektor perdagangan
disebabkan meningkatnya kunjungan wisatawan. Selain itu, penyerapan
tenaga kerja dan sumbangan terhadap perekonomian daerah sangat
signifikan.
*Kebudayaan*
DIY mempunyai beragam potensi budaya, baik budaya yang
tangible (fisik) maupun yang
intangible
(non fisik). Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar
budaya dan benda cagar budaya sedangkan potensi budaya yang
intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat.
DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang
tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya. Keberadaan aset-aset budaya
peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut, dengan Kraton sebagai
institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya,
merupakan embrio dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat
dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya dan beradat
tradisi. Selain itu, Provinsi DIY juga mempunyai 30
museum, yang dua di antaranya yaitu Museum Ullen Sentalu dan Museum Sonobudoyo diproyeksikan menjadi museum internasional.
contohnya candi
*Aspek Seni*
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak sekali kesenian. Baik itu
kesenian budaya seperti tari-tarian ataupun seni kerajinan seperti
batik, perak, dan wayang.
1. Batik
Batik adalah salah satu kerajinan khas Indonesia terutama daerah
Yogyakarta. Batik yogya terkenal karena keindahannya, baik corak maupun
warnanya. Seni batik sudah ada diturunkan oleh nenek moyang, hingga saat
ini banyak sekali tempat-tempat khusus yang menjual batik ini. Perajin
batik banyak terdapat di daerah pasar ngasem dan sekitarnya.
Kata “batik” berasal dari gabungan dua kata
bahasa Jawa: “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna “titik”.
Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu
batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan
kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing.
Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik
tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki
kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 oktober 2009.
2. Perak
Kerajinan perak di Yogyakarta terkenal karena kekhassannya. Kerajinan
ini berpusat di KotaGede, dimana hampir seluruh masyarakat di daerah
ini menjadi pengrajin dan penjual perak, banyak para wisatawan yang
datang ke tempat ini bila hendak membeli kerajinan perak.
3. Wayang
Seni wayang banyak terdapat di daerah jawa, khususnya jogjakarta,
para pengrajin maupun pendalang sudah diwariskan secara turun temurun.
Pengarajin wayang banyak terdapat di daerah pasar ngasem, bahan-bahan
dari wayang ini terbuat dari kulit sapi atau kerbau, sehingga tidak
mudah rusak dan awet. Wayang mudah di dapat juga di daerah sepanjang
malioboro.
Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan
animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.
4. Tari Golek Menak Dari Yogyakarta
Tari Golek Menak merupakan salah satu jenis tari klasik gaya
Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Penciptaan tari Golek Menak berawal dari ide sultan setelah menyaksikan
pertunjukkan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang
dari daerah Kedu pada tahun 1941. Disebut juga Beksa Golek Menak, atau
Beksan Menak. Mengandung arti menarikan wayang Golek Menak. Karena
sangat mencintai budaya Wayang Orang maka Sri Sultan merencanakan ingin
membuat suatu pagelaran yaitu menampilkan tarian wayang orang. Untuk
melaksanakan ide itu Sultan pada tahun 1941 memanggil para pakar tari
yang dipimpin oleh K.R.T. Purbaningrat, dibantu oleh K.R.T.
Brongtodiningrat, Pangeran Suryobrongto, K.R.T. Madukusumo, K.R.T.
Wiradipraja, K.R.T.Mertodipuro, RW Hendramardawa, RB Kuswaraga dan RW
Larassumbaga. Proses penciptaan dan latihan untuk melaksanakan ide itu
memakan waktu cukup lama. Pagelaran perdana dilaksanakan di Kraton pada
tahun 1943 untuk memperingati hari ulang tahun sultan. Bentuknya masih
belum sempurna, karena tata busana masih dalam bentuk gladi resik. Hasil
pertama dari ciptaan sultan tersebut mampu menampilkan tipe tiga
karakter yaitu :
- Tipe karakter puteri untuk Dewi Sudarawerti dan Dewi Sirtupelaeli,
- Tipe karakter putra halus untuk Raden Maktal,
- tipe karakter gagah untuk Prabu Dirgamaruta
Tiga tipe karakter tersebut ditampilkan dalam bentuk dua beksan,
yaitu perang antara Dewi Sudarawerti melawan Dewi Sirtupelaeli, serta
perang antara Prabu Dirgamaruta melawan Raden Maktal.
*Keagamaan*
Penduduk DIY mayoritas beragama Islam yaitu sebesar 90,96%, selebihnya
beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha. Sarana ibadah terus mengalami
perkembangan, pada tahun 2007 terdiri dari 6214 masjid, 3413 langgar, 1877 musholla, 218 gereja, 139 kapel, 25 kuil/pura dan 24 vihara/klenteng. Jumlah pondok pesantren
pada tahun 2006 sebanyak 260, dengan 260 kyai dan 2.694 ustadz serta
38.103 santri. Sedangkan jumlah madrasah baik negeri maupun swasta
terdiri dari 148 madrasah ibtidaiyah, 84 madrasah tsanawiyah dan 35 madrasah aliyah. Aktivitas keagamaan juga dapat dilihat dari meningkatnya jumlah jamaah haji dari tahun ke tahun, dan pada tahun 2007 terdapat 3.064 jamaah haji.
*Transportasi*
Pelayanan angkutan kereta api pemberangkatan dan kedatangan berpusat di Stasiun Kereta Api Tugu untuk kelas eksekutif dan bisnis, sedangkan Stasiun Lempuyangan
untuk melayani angkutan penumpang kelas ekonomi dan barang. Saat ini
untuk meningkatkan layanan jalur Timur-Barat sudah dibangun jalur ganda (double track) dari Stasiun Solo Balapan sampai Stasiun Kutoarjo.
Berkaitan dengan keselamatan lalulintas, permasalahan yang berkaitan
dengan layanan angkutan kereta api antara lain masih banyak perlintasan
yang tidak dijaga. Selain kerata api, Pemda DIY mengembangkan layanan
Bus Trans Jogja yang menjadi prototipe layanan angkutan massal di masa
mendatang.
Untuk angkutan
sungai, danau dan penyeberangan, Waduk Sermo yang terletak di Kabupaten Kulon Progo
yang memiliki luas areal 1,57 km² dan mempunyai keliling ± 20 km
menyebabkan terpisahnya hubungan lintas darat antara desa di sisi waduk
dengan desa lain di seberangnya. Di sektor transportasi laut dI DIY
terdapat Tempat Pendaratan Kapal (TPK) yang berfungsi sebagai pendaratan
kapal pendaratan pencari ikan dan tempat wisata pantai. Terdapat 19
titik TPK yang dilayani oleh ± 450 kapal nelayan.
Di sektor transportasi udara,
Bandara Adisutjipto
yang telah menjadi bandara internasional sejak 2004 menjadi pintu masuk
transportasi udara bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, baik domestik
maupun internasional. Keterbatasan fasilitas sisi udara dan darat yang
berada di Bandara Adisutjipto menyebabkan fungsi Bandara Adisutjipto
sebagai gerbang wilayah selatan Pulau Jawa tidak dapat optimal. Status
bandara yang “enclave civil” menyebabkan landas pacu yang ada
dimanfaatkan untuk dua kepentingan yakni penerbangan sipil dan latihan
terbang militer.
*KEBUDAYAAN KOTA SEMARANG*
Kota Semarang adalah ibukota provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang dipimpin
oleh wali kota Drs. H. Soemarmo HS, Msi dan wakil wali kota Hendrar Prihadi,
SE, MM. Dan yang terletak disebelah utara pulau Jawa, secara geografis kota
Semarang bersebelahan dengan Kabupaten Kendal di sebelah barat, Kabupaten Ungaran
di sebelah selatan, dan sebelah timur terdapat Kabupaten Demak. Dari beribu-ribu
penduduk Semarang terdapat beraneka ragam budaya dan kekhasan masing-masing. Berkembang
beberapa suku seperti Jawa, Tionghua, dan Arab, serta memiliki budaya yang
menarik yang merupakan perpaduan budaya-budaya yang dahulunya merupakan
cikal-bakal Semarang. Merujuk pada bangunan sejarah dan nama-nama tempat di
kota Semarang, maka kebudayaan yang pada saat lalu berkembang sperti Islam,
Tionghua, Eropa, dan Jawa (pribumi). Keempat kebudayaan tersebut berbaur yang
berpengaruh penting pada perkembangan Semarang tempo dulu. Sisa kebudayaan
tersebut masih berdiri dengan kokoh diterpa budaya modern yang berada disekitar
Pasar Johar(Kali mberok).
Tempat-tempat yang menjadi pusat peradaban budaya yang saat ini masih
terkenal dan sebagian hanya tinggal Kenangan (bangunan tua) dibagi menjadi 4
yaitu; Kampung Kauman, Kampung Pecinan, Kampung Belanda (Little Netherland), dan Kampung Melayu. Kampung Kauman pada tempo
dulu merupakan kawasan padat penduduk keturunan jawa sekarang keturunan Arab
juga banyak. Kampung Pecinan dihuni sebagian besar oleh keturunan Tionghua dan
Kmapung Belanda merupakan daerah pemerintahan dan kota kecil yang sekarang
disebut dengan Semarang Kota Lama. Sementara Kampung Melayu lebih banyak
keturunan Arab, dan pada saat ini masyarakat Jawa lebih banyak berada di daerah
Kampung Melayu.
· *
Tradisi dan Kebudayaan Semarang*
Satu hal yang menarik dari tata cara tradisi dan budaya masyarakat
Semarang adalah adanya perpaduan dua unsur etnis dalam satu tradisi, ini
dikarenakan di Semarang tidak hanya dihuni oleh masyarakat etnis Jawa, namun
juga banyak masyarakat etnis Tionghoa yang bermukim disini. Maka, tradisi dan
budaya di Semarang terlihat lebih cantik karena unsur Jawa Oriental yang begitu
kental. Salah satu contoh budaya di Semarang yang terdapat unsur Jawa Oriental
ini adalah Gambang Semarang atau Tarian Semarangan yang tidak hanya menampilkan
keindahan seni tari, namin juga musik disertai lawak-lawakan dalam setiap
tampilannya. Dalam Tarian Semarangan atau Gambang Semarang ini menggunakan
alat-alat musik seperti kendang dari Jawa Barat, bonang, kempul, suling,
kecrek, gambang, sukong, konghayan, dan balungan. Gerakan ciri khas dari tarian
ini berpusat pada tiga gerakan baku yang semuanya digerakkan dengan pinggul,
yaitu ngeyek, ngondek, dan genjot. Sedangkan gerakan tangan (lambeyan) sebatas
diarah mata. Tari gambang ini menggambarkan suasana ceria empat orang penari
yang diceritakan sedang berkumpul dan berbincang-bincang. Tarian ini merupakan tarian
yang gerakannya penuh semangat disertai dengan ekspresi-ekspresi berlebihan
dari sang penari. Goyangan pada pinggullah yang menjadi khas dari tarian ini
goyangan pinggul tersebut apabila diperhatikan membentuk gelombang laut. Laut tersebut
menggambarkan jajaran pantai yang menghiasi kota Semarang. Selain itu dari seni
musik ada juga Gamelan, Orchestra Van Java Siapa bilang orang Jawa tidak
mengenal orchestra? Jauh sebelum bangsa-bangsa Eropa datang nenek moyang bangsa
Indonesia sudah mempraktikannya. Sejak jaman dinasti Syailendra pada abad ke-8
Masehi, nenek moyang Bangsa Indonesia sudah mengenal dan memainkan berbagai
alat musik secara bersama-sama yang kemudian lebih dikenal sebagai Gamelan. Gamelan
meruapakan satu kesatuan utuh berbagai unsur alat musik yang diwujudkan dan
dibunyikan bersama. Kata Gamelan berasal dari bahsa Jawa ‘Gamel’ yang berarti
memukul, diikuti akhiran ‘-An’ yang menjadikannya kata benda. Gamelan sangat
mudah dijumpai di hampir seluruh wilayah pulau jawa. Tentu saja ada beberapa
perbedaan antara satu daerah yang lain akibat proses kebudayaan. Gamelan yang
berkembang di Semarang adalah Gamelan Jawa. Selain di Jawa, gamelan jugadapat
ditemui di Madura, Bali, Lombok, dll. Dari semuanya, Gamelan Jawa diyakini
sebagai yang tertua dan menjadi asal usul gamelan di daerah lain. Kemunculan gamelan
didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia, terutama Jawa
pada awal masa pencatatan sejarah. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya
sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Satu-satunya
pengaruh India dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanyikannya. Gambaran
tentang gamelan pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah,
yang dibangun pada abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng,
kendhang, dalam berbagai ukuran, kecapi,
alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun,
sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat
musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan. Gamelan merupakan bagian
yang tak terpisahkan pada hampir semua kegiatan seni dan budaya Jawa, seperti
pertubjukan wayang kulit, kethoprak, pementasan tari, uyon-uyon (pertunjukan
seni tarik suara), dll. Gamelan adalah salah satu hasil kebudayaan yang sudah
diakui secara internasional dan dipentaskan di lima benua. Bahkan PBB sudah
menetapkan sebagai warisan budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan. Untuk
menikmati Orchestra Van Java, anda bisa mengunjungi Gedung Ki Narto Sabdho,
kompleks TBRS Semarang.
· *
Penduduk*
Penduduk kota Semarang umumnya adalah suku Jawa. Mereka menggunakan
bahasa jawa untuk bertutur kata sehari-hari. Mereka menganut agama islam, dan
memiliki komunitas tionghoa yang besar. Komunitas tersebut sudah berbaur dengan
penduduk wilayah setempat.
·
*Julukan Kota Semarang*
Kota Semarang memiliki beberapa julukan yaitu :
1. Venice
van Java : Kota Semarang banyak dilalui sungai, seperti di Venice (Italia)
sehingga Belanda menyebut Semarang dengan julukan tersebut.
2. Kota
Lumpia : Semarang terkenal dengan
makanan khasnya, yaitu lumpia. Lumpia terbuat dari akulturasi budaya Jawa dan
Cina.
3. Kota
Atlas : Maksud kota atlas adalah
aman, tertib, lancar, asri dan sehat.
Dari julukan
tersebutlah Semarang lebih dikenal atau diketahui oleh luar Jawa.
·
*Adat Istiadat Semarang*
Semarang memiliki budaya yang sangat kental. Salah satunya tradisi adat
dari Semarang adalah perayaan tradisi Dugderan. Dari tradisi tersebut, kita
dapat melihat percampuran seluruh budaya yang ada di Semarang. Perpaduan budaya
tersebut dapat kita lihat pada “warak endog”, adalah boneka binatang raksasa
yang merupakan mitologis yang digambarkan sebagai symbol akulturasi budaya di
Semarang. Bagian-bagian tubuhnya terdiri dari kepala naga (china), badan buraq
(arab), kaki kambing (jawa). Kata warak berasal dari bahasa arab “wara I” yang
artinya suci. Sedangkan edog (telur) merupakan symbol pahala yang diterima
manusia setelah menjalani proses suci. Secara harfiah, Warak Ngendok bisa
diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di
akhir bulan akan mendapatkan pahala di hari lebaran.
· *
Pariwisata*
Beberapa tempat wisata di Semarang :
1)
Wisata
Alam : Pulau Tirangcawang, Pulau Tirang, Pulau Marina, Pulau Maron
2)
Wisata
Sejarah : Museum MURI, Lawang Sewu, Museum Jateng
3)
Wisata
Religi : Masjid Agung, Candi Tugu, Klenteng Sampoo KONG
*Sumber*
1) http://rifiway26.wordpress.com/2013/03/07/keragaman-budaya-daerah-istimewa-yogyakarta- jogjakarta/
2) http://isdzackalutfim.blogspot.com/
3) http://gabriellaaningtyas.wordpress.com/2012/11/25/kebudayaan-daerah-istimewa-yogyakarta/